Bagi siswa dan orang tua pada  bulan Juli ada ritual rutin tahunan  yaitu tentang berhasildan kegagalan di sekolah.  Sejumlah anak dan orang tua merayakan keberhasilannya, karena mereka lulus, naik kelas, diterima di perguruan tinggi, meraih niali UAN terbaik dan berbagai keberhasilan lainnya.  Sementara pada bagian lain ada sejumlah anak dan orang yang murung, karena mereka gagal, tidak lulus sekolah, tidak naik kelas, tidak diterima di perguruan tinggi.  Bahkan diberitakan di Jawa Pos edisi Selasa 24 Juni 2008, seorang siswi dengan nilai bagus tidak bisa melanjutkan kuliah karena tidak meimiliki biaya pendidikan.  Kata ungkapan di masyarakat anak ini ”wong” tapi tidak punya ”wang” maksudnya tidak punya uang.

            Yang menarik bagi kita, ternyata  keberhasilan yang diraih anak di bangku sekolah ini tidak selalu seirimg dengan keberhasilan dia dalam kehidupan.  Banyak anak yang sukses dalam pendidikan namun gagal dalam kehidupan.  Kegagalan itu bisa berupa pengangguran, gagal mengelola rumah tangga, terjadinya banyak sekali penyimpangan moral, seperti perkelahian antar desa, antar kelompok yang bertikai, menggunakan obat-obat terlarang, menjadi peminum, penjusi, korupsi, terinfeksi HIV aid, dan berbagai bentuk kegagalan lain yang semakin hari semakin kompleks. 

            Sebaliknya gagal sekolah tidak selalu identik dengan gagal dalam kehidupan.  Ada bebrapa orang sukses dalam kehidupan ini yang dulunya pernah gagal saat sekolah, diantaranya Einstein, dan Bill Gate. 

            Apa sebenarnya yang menetukan keberhasilan itu ? BELAJAR, itulah jawabnya.  Sekolah bukanlah satu-satunya tempat kita belajar.  Sekolah memang tempat belajar, namun kita juga harus belajar dari kehidupan.  Belajar tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Belajar adalah sepanjang hayat, dimana saja, kepada siapa saja ,tentang apa saja, dan kapan saja.  Bila pada awal Juli ini semua sekolah libur,  maka belajar tidak boleh libur. 

            Untuk itu maka momen libur sekolah ini merupakan saat yang tepat bagi orang tua untuk mengajak anak-anak kita ke universitas kehidupan.  Banyak hal yang ada dalam kehidupan yang tidak ada di sekolah.  Hal ini terjadi karena sekolah memang bukan orisinilitas kehidupan itu sendiri.  Sekolah merupakan simplifikasi dari kehidupan nyata.  Karena sekolah merupakan simplifikasi dari kehidupan maka, orang tua perlu mengajak anak-anak pada dunia nyata.  Bila kita  gagal sekolah, kita tidak boleh gagal dalam belajar.  Ketika kita gagal dalam belajar maka kita akan gagal dalam kehidupan. 

            Kegagalan bangsa kita saat ini merupakan salah satu gambaran tentang gagal belajar, belajar dari apa saja yang tejadi di negara kita.  Gagal dalam kepemimipinan negeri sehingga negeri ini menjaid carut marut hingga 100 tahun kebangkitan Indonesia.  Demikian pula krisis terjadi di awal tahun 1998 menimpa negara kita, sudah 10 tahun ini kita juga belum bisa keluar dari krisis, bahkan krisis bergeraser dari krisis moneter ke krisis multi dimensi.  Untuk itu maka kita harus jujur, dan bebrbesar jiwa agar kita bisa belajar dari kehidupan ini.

 

 

Dalam pendidikan anak, orang tua tidak hanya berperan di rumah. Peran mereka dalam pendidikan anak di sekolah juga tidak kalah pentingnya. Masing-masing harus dilakukan sejalan, agar perkembangan dan pendidikan anak mereka optimal.

 

Ada 5 peran minimal sebagai tanggung jawab orang tua di rumah.

Pertama, orang tua dan keluarga sebagai payung psikologis.  Perilaku utama orang tua dalam menjalankan peran ini adalah memberikan kasih sayang dengan tulus kepada anak-anaknya. Bila anak tumbuh bersama orang tua yang penuh kasih sayang maka anak merasa damai dan  tentram. Sehingga fitrah potensi dasarnya akan berkembang secara optimal. Anak  tidak mengalami hambatan psikologis untuk tumbuh dan berkembang. Pengalaman ini akan mempengaruhi semua tahapan perkembangan berikutnya karena memang tahapan perkembangan anak merupakan suatu rangkaian. Peran orang tua dalam memberikan kasih sayang tidak bisa digantikan oleh siapapun, meskipun itu oleh guru yang baik, kakek nenek yang baik, apalagi orang lain di lingkungan keluarga kita. 

            Kedua, orang tua dan keluarga merupakan tempat transformasi dan inernalisasi nilai-nilai kebaikan. Bila anak tumbuh tanpa hambatan psikologis, proses internalisasi nilai-nilai kebaikan akan mudah dilakukan.  Transformasi dan internalisasi  berarti adanya proses penanaman nilai serta perubahan dari pengetahuan tentang kebaikan menjadi prilaku yang baik. Dimana hal tersebut melekat pada pribadi anak. Peran utama orang tua adalah sebagai teladan yang paling dekat dengan kehidupan anak. Bila anak kehilangan figur dan contoh teladan dari orang tua, maka dia tidak bangga lagi memiliki ayah ibu, bahkan bisa jadi dia tidak akan menghormati keduanya. Hal inilah yang menjadi potensi lahirnya kenakalan remaja seperti yang kita lihat saat ini.

            Ketiga, orang tua berperan untuk membentuk karakter anak. Bila anak tumbuh bersama orang tua yang penuh kasih sayang, dengan figur dan keteladanan yang kokoh, maka karakter dasar anak akan mudah dibentuk. Karakter dasar itu antara lain, jujur, disiplin, hormat dan santun, mandiri, bertanggung jawab, serta memiliki daya juang dan motivasi yang tinggi.  Peran orang tua dalam hal ini menumbuhkan kebiasaan anak untuk memiliki sifat-sifat baik itu.

            Keempat, orang tua dan keluarga sebagai miniatur kehidupan sosial.  Orang tua merupakan unsur terpenting dalam keluarga. Keberadaan mereka diperlukan untuk menumbuhkan kemampuan anak melakukan interaksi sosial. Peran utama orang tua adalah memberikan kesempatan anak untuk melatih keterampilan sosialnya.  Keterampilan sosial tersebut hanya dapat ditumbuhkan melalui pengalaman langsung. Anak yang memiliki keterampilan sosial yang baik otomatis akan mudah beradaptasi dengan berbagai macam realitas sosial yang ada di masyarakat. 

            Kelima, keluarga adalah kapal besar bagi anak untuk memenuhi segala kebutuhannya, dan orang tua adalah nahkoda kapal itu.  Bisa dibayangkan bila orang tua sebagai nahkoda tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas maka  kapal yagn dijalankannya akan berlayar tak tentu arah, oleng kala diterjang ombak, goyah saat dihempas badai, dan akhirnya tersesat. Atau bisa jadi kapal tidak sempat mencapai tujuan karena dia tenggelam di tengah lautan. Peran utama orang tua diperlukan untuk menghadapi bahtera kehidupan. Mereka adalah sebagai pemimpin di rumah yang harus menentukan arah dan tujuan hidup anak-anaknya.    

 

            Jika melihat kedudukan orang tua dengan sekolah, peran orang tua di sekolah dapat dikelompokkan menjadi tiga. 

Pertama, golongan yang memiliki kohesivitas kuat,  yaitu mereka yang memiliki visi yang sama dengan sekolah. Golongan ini biasanya dapat dengan mudah bersatupadu dan memberikan dukungan secara konkret terhadap program-program sekolah. Sehingga energi orang tua menyatu dengan energi guru untuk mengantarkan anak menjadi sukses. Kohesivitas kuat ini merupakan pola hubungan yang paling tinggi kualitasnya.

Kedua, golongan yang kohesivitas lemah yaitu mereka yang visinya sama dengan sekolah, namun belum bisa memberikan dukungan secara konkret ke sekolah. Berbagai macam alasan mereka kemukakan, yang paling sering adalah karena kesibukan mereka diluar rumah. Tipe ini biasanya pasrah sepenuhnya ke sekolah. 

Ketiga, golongan yang tidak kohesiv, yaitu bila orang tua menarik ke arah yang berbeda dengan tarikan sekolah, artinya sering terjadi perbedaan visi antara orang tua dengan sekolah. Bila ini terjadi, biasanya energi guru akan terkuras untuk menyamakan visi. Sehingga perhatian mereka berubah, tidak lagi fokus menyiapkan siswa yang sukses namun lebih tersedot untuk menyamakan visi dengan orang tua. Pola hubungan ini kualitasnya paling rendah untuk mengantarkan anak menjadi sukses.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.